Daftar Isi

Apakah Anda pernah memperhatikan buah hati Anda lebih nyaman berinteraksi dengan layar daripada berinteraksi langsung dengan orang lain? Sebagian besar orang tua sering kali cemas diam-diam: apakah arus dunia digital yang terus-menerus hadir dalam kehidupan anak-anak ini perlahan-lahan menggerus kemampuan mereka memahami emosi orang lain?
Data penelitian terbaru pada 2026 memperlihatkan—anak-anak generasi digital kini 40% lebih sulit mengenali ekspresi emosi dibandingkan generasi sebelumnya. Namun, Anda tak perlu langsung menyerah.
Selama dua dekade mendampingi keluarga menghadapi perubahan teknologi, saya menyaksikan sendiri bahwa kiat membangun empati pada anak di era digital sekarang bukan sekadar impian. Dengan langkah-langkah praktis dan komitmen penuh dari orang tua, anak tetap dapat tumbuh menjadi pribadi empatik—peka, peduli, dan mampu menjalin ikatan emosional walau hidup dalam hiruk-pikuk notifikasi dan algoritma.
Sudah waktunya kita bertindak untuk menanamkan empati sejati bagi mereka—mulailah dari sekarang.
Menelisik Tantangan Kemampuan Empati Anak di Tengah Arus Informasi Digital Tahun 2026
Di tengah derasnya arus informasi digital yang semakin tak terbendung di tahun 2026, empati pada anak bukan cuma soft skill, melainkan juga bekal survival. Anak zaman sekarang tumbuh dengan paparan layar sejak dini—mulai dari video viral, komentar singkat di medsos, hingga berita-berita penuh emosi yang belum tentu benar. Seringkali, mereka maximal terpicu emosinya, namun tidak sensitif pada emosi sekitar. Tantangan utamanya adalah cara membimbing si kecil agar tahu mana info yang perlu dirasakan dan mana yang cukup dilewatkan saja.
Salah satu cara mengembangkan empati pada anak di masa digital 2026 adalah membiasakan anak mendiskusikan hal-hal yang mereka baca atau tonton secara online. Misalnya, ketika melihat berita tentang bencana alam di suatu daerah, ajak anak berbicara: “Bagaimana perasaanmu jika kamu ada di posisi mereka?” Ketika anak melihat komentar negatif di media sosial temannya, tanyakan: “Bagaimana menurutmu perasaan temanmu saat membaca itu?” Percakapan seperti ini membantu anak belajar menempatkan diri dan memperluas sudut pandangnya. Jangan lupa—proses ini memang butuh kesabaran dan konsistensi dari orang tua.
Coba visualisasikan otak anak layaknya taman yang penuh benih ide dari internet; tanpa perawatan dan arahan yang tepat, gulma bisa merajalela. Sebagai analogi lain yang cerdas, orang tua dapat menjadi ‘tukang kebun’ yang selalu menyiram dan memangkas tanaman agar tumbuh subur. Lakukan rutinitas sederhana seperti family time tanpa gadget tiap minggu atau sesi role-play untuk meniru situasi sosial nyata. Perlahan-lahan, anak akan belajar bahwa dunia maya dan nyata sama-sama membutuhkan empati—dan menjadi pribadi yang peduli tak lagi sesuatu yang asing baginya.
Langkah Mudah Mengajarkan Empati Pada Anak dengan Memanfaatkan secara maksimal Teknologi
Mengoptimalkan teknologi tak serta-merta membuat anak ditinggalkan larut dalam layar tanpa panduan. Sebaliknya, Anda sebagai orang tua bisa menjadikan aplikasi, film animasi, atau bahkan game edukatif yang memang dirancang untuk menumbuhkan empati. Contohnya, game simulasi semacam ‘Kind Words’ ataupun animasi-animasi inspiratif di YouTube yang membahas kisah tolong-menolong dan persahabatan. Sambil menemani anak bermain atau menonton, libatkan mereka dalam diskusi seperti, “Menurutmu, bagaimana perasaan tokoh itu saat diledek?” atau “Jika kamu jadi dia, apa yang akan kamu lakukan?” Interaksi semacam ini adalah salah satu cara membangun empati pada anak di dunia serba digital 2026—transformasi dari sekadar konsumsi pasif ke pengalaman belajar yang aktif serta bermanfaat.
Selain itu, teknologi juga memudahkan anak untuk menjelajahi dunia luar dan merasakan empati terhadap situasi yang tidak ditemuinya dalam keseharian. Contohnya, ikut serta dalam proyek virtual berbasis donasi atau berkorespondensi secara online dengan anak-anak di negara yang mengalami bencana. Dengan begitu, anak bukan sekadar memahami teori, melainkan ikut mengalami sendiri tindakan memberi dan peduli. Orang tua dapat mendampingi setiap prosesnya—seperti membantu memilih aktivitas yang cocok dengan usianya sampai membicarakan perasaan dan nilai moral di balik setiap tindakannya.
Supaya lebih optimal, pastikan kehadiran Anda baik secara fisik maupun emosional selama proses ini. Teknologi tentu sangat berguna, namun koneksi langsung dengan orang tua tetap kunci utama agar nilai empati sungguh-sungguh mengena di hati anak. Sebagai contoh, setelah melakukan video call dengan teman dari latar belakang budaya berbeda, ajak anak berbincang santai soal hal-hal yang ia rasakan atau pelajari. Langkah ini membuat tips praktis tadi tak hanya berhenti sebagai wacana, melainkan turut membentuk karakter si kecil—memperkuat mereka menyongsong tantangan sosial era digital ke depan.
Cara Selanjutnya untuk Memperkuat Empati Anak di Zaman Digital melalui Keterlibatan Keluarga dan Komunitas
Mengembangkan empati anak di era digital bukan hal mudah, apalagi saat perangkat digital dan media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Salah satu strategi membangun empati pada anak di dunia serba digital 2026 yang bisa langsung diterapkan adalah mengajak semua anggota keluarga berdiskusi tentang pengalaman daring anak. Misalnya, undang anak untuk berbagi perasaannya usai melihat konten tertentu di dunia maya, lalu diskusikan bersama respon orang lain yang mungkin tak sejalan. Dengan begitu, anak dilatih untuk memahami situasi dari perspektif orang lain, sekaligus membiasakan diri memahami pandangan yang beragam.
Tak cuma keluarga inti, masyarakat sekitar juga memiliki peran krusial dalam mengasah empati. Praktikkanlah aktivitas bersama tetangga atau teman sebaya, seperti bersama-sama membersihkan taman kompleks atau mengadakan bazar amal kecil-kecilan. Kegiatan ini membuktikan kalau empati bukan omong kosong, melainkan aksi yang manfaatnya bisa langsung dinikmati. Pengalaman seperti ini akan tinggal lama dalam memori anak, karena mereka melihat dan merasakan sendiri pentingnya peduli pada sesama, bahkan di tengah derasnya arus digitalisasi.
Untuk melengkapi upaya ini, orang tua dapat membuat ‘jadwal unplugged’ keluarga—waktu tertentu tanpa gawai untuk fokus berinteraksi tatap muka dan berdiskusi hal-hal ringan hingga isu sosial. Anda bisa memulai dengan permainan peran (role play) sederhana terkait kasus perundungan maya: minta anak berpura-pura jadi korban dan pelaku, kemudian diskusikan perasaan masing-masing. Cara ini efektif untuk menerjemahkan nilai-nilai empati ke situasi nyata yang sering mereka temui secara online maupun offline. Pada akhirnya, keterlibatan keluarga dan komunitas menjadi jembatan kokoh agar langkah membangun empati pada anak di era digital 2026 tidak hanya berhenti pada teori, melainkan menjadi kebiasaan harian yang relevan mengikuti perkembangan zaman.